Maret 2017, Fenomena Alam Langka Ini akan Terjadi di Indonesia

Tidak semua negara di belahan dunia bisa menikmati misteri alam ini. Selain Indonesia ada empat negara lainnya yang berada di Afrika yang juga bisa menyaksikan keajaiban alam ini.

Puri Yuanita
| 17 Februari 2017 11:43

Dream - Fenomena alam yang menarik bakal terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat pada 21-23 Maret 2017 mendatang. Fenomena alam yang dimaksud adalah kulminasi matahari yang merupakan salah satu peristiwa langka. Kulminasi matahari ini bisa disaksikan di Tugu Khatulistiwa Pontianak tepat pukul 11.38 WIB. Kulminasi matahari ini mirip GMT (Gerhana Matahari Total) lalu yang hanya terjadi di beberapa tempat dan terbatas waktunya.

" Ini bisa menjadi momentum pariwisata yang hebat. Kami akan promosikan agar menghadirkan wisatawan di Pontianak. Karena Pontianak dilintasi garis matahari, pada 0 detik, 0 menit, dan 0 derajat. Dalam satu tahun peristiwa ini hanya terjadi dua kali yakni pada 21-23 Maret dan 21-23 September. Anda ingin tahu? Silakan mengunjungi Kota Khatulistiwa," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pontianak, Hilfira Hamid.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menyebut, fenomena alam langka itu idealnya dipromosikan jauh-jauh hari, karena wisatawan yang tertarik dengan peristiwa seperti ini biasanya berbasis kampus. Mahasiswa, dosen, peneliti, dan ilmuwan yang ingin mengabadikan peristiwa tersebut. " Dan mereka selalu merencanakan lebih lama, meskipun waktunya sangat pendek," jelas Arief Yahya dikutip dari keterangan pers tertulis, Jumat 17 Februari 2017.

Menpar menambahkan, fenomena kulminasi matahari ini harus dikelola dengan baik sebagai daya tarik wisata layaknya GMT yang sudah dipuji di banyak negara karena promosinya yang menggoda. Berbagai event di 12 kota yang dilintasi peristiwa GMT dulu, terbukti berhasil menggaungkan nama pariwisata Indonesia di kancah dunia. Hasilnya, penginapan dan akses pesawat menuju ke lokasi 12 kota itu benar-benar penuh.

Lebih lanjut Hilfira menjelaskan, kulminasi matahari adalah fenomena alam dimana matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Yang paling menarik dari gelaja alam tersebut adalah saat terjadi kulminasi, posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Bahkan di jeda waktu tersebut, para pecinta astronomi akan menyaksikan bayangan tugu seperti lenyap beberapa saat diterpa sinar matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain di sekitar tugu.

Berdasarkan hasil pengukuran BPPT, posisi Tugu khatulistiwa saat ini berada pada 0 derajat, 0 menit dan 0 detik lintang, 109 derajat 20 menit, 0 detik bujur timur. Walaupun terjadi pergeseran 117 meter dari garis equator sebelumnya tetapi spot ini masih dinyatakan spot terbaik untuk melihat gejala bintang di pusat tata surya galaksi Bima Sakti.

Disamping daya tarik kulminasi matahari, momen tersebut juga akan dimeriahkan dengan festival yang diisi oleh beragam atraksi. Mulai dari festival seni, expo, festival makanan dan acara puncak yakni seremonial menyambut equinox. Memanfaatkan momen tersebut, pihak penyelenggara juga menjual berbagai paket destinasi seperti menjelajahi Sungai Kapuas yang menjadi sungai terpanjang di Indonesia. Atau mengunjungi Kampung Beting yang menjadi peradaban kota Pontianak di masa lalu yang masih dijaga kelestariannya hingga saat ini.

" Kita juga mempersiapkan ragam destinasi lainnya, seperti Arung Jeram Riam Berasap di Bengkayang Rumah Betang Radak, Keraton Kesultanan Kadariyah, Pantai Pasir Panjang dan Pantai Kura-Kura dan ragam paket destinasi Ekowisata di Singkawang. Kita akan sambut semua fenomena alam ini dengan nuansa pariwisata," ujar Hilfira.

Sekadar informasi, tidak semua negara di belahan dunia bisa menikmati misteri alam ini. Selain Indonesia ada empat negara lainnya yang berada di Afrika yang juga bisa menyaksikan keajaiban alam ini seperti negara Gabon, Zaire, Uganda, Kenya, dan Somalia.

" Namun dari semua negara yang dilintasi oleh garis khatulistiwa, hanya Pontianak kota satu-satunya di dunia yang berada tepat dilintasi oleh garis Khatulistiwa yang menhasilkan rekaan gambar tanpa bayang-bayang yang sempurna," tambah Hilfira.

Selanjutnya :

5 Mitos Aneh Gerhana Matahari di Berbagai Belahan Dunia

Luna Maya berkeliling Purwakarta bersama Bupati Dedi Mulyadi (Episode 1/3)

Rekomendasi Pilihan

Jangan Lewatkan

China Mulai Berlakukan Sistem 'Fingerprint' untuk Turis Asing
NEWS 16 Februari 2017 17:37

China sudah mulai memberlakukan sistem pengamanan menggunakan fingerprint untuk turis asing.