10 Buku untuk Menemani Liburan Para Jomblo di Akhir Tahun

Sembari merancang berbagai resolusi di 2017, ada baiknya kamu yang jomblo, membaca buku.

Puri Yuanita
| 29 Desember 2016 13:57

Dream - Tahun 2016 segera berakhir. Berbagai resolusi segera dirancang untuk mengisi 2017.

Nah, bagi para jomblo, resolusi untuk mendapatkan pasangan barangkali menjadi sesuatu yang realistis. Sebab, tak jarang diantara mereka dituntut untuk mendapatkan pasangan oleh keluarga atau orang-orang terdekatnya.

Sembari merancang berbagai resolusi di 2017, ada baiknya kamu yang jomblo, membaca buku. Sebab, kata penulis novel Rumah Kertas, Carlos Maria, buku mengubah takdir hidup seseorang.

Berikut 10 buku karya penulis Indonesia pilihan Klubbaca.id, yang bisa menemani liburan para jomblo di akhir tahun.

1. Agama Apa Yang Pantas Bagi Pohon-Pohon?

Eko Triono memang bukan nama baru dalam dunia cerpen Indonesia. Kiprah dan karya-karyanya telah mewarnai banyak kolom cerpen di koran dan majalah.

Menurut Ketua Klub Baca Buku Teguh Afandi, yang menarik dari buku ini adalah bagaimana Eko Triono bermain-main dengan ragam teknik penceritaan. Dalam satu buku ini, Eko Triono tampil sebagai penulis cerita yang hadir tidak biasa.

" Dia punya kuasa mutlak atas jalannya cerita. Mau diakhiri di halaman kedua, kedua belas, panjang, pendek. Atau apa saja, berada mutlak di tangan penulis," ucap Teguh.

2. Bersepeda Ke Neraka

Pembaca Indonesia terlalu terpaku pada ukuran pasti cerita. Panjang, maka harus sepanjang novel 200-an halaman. Kalau cerpen maka satu cerpen dipatok pada panjang cerpen di media massa, 5-10 halaman.

" Khususnya cerita pendek, kita masih kaku dalam ukuran. Padahal bila kita menengok ke luar negeri, kita bisa melihat cerita pendek bisa sepanjang cerpen milik Alice Munro, atau bahkan bisa super pendek seperti Etgar Keret atau Ben Loory," kata Teguh.

Buku ini menjadi oase baru. Triyanto Triwikromo menghadirkan cerita rasa puisi. Teror dan ironi yang menyentak. Konsep dalam buku ini memang unik dan beda dari kebanyakan.

3. Chairil

Siapa yang tak kenal Chairil Anwar. Puisi-puisinya menjadi selalu menarik untuk diungkapkan.

Nah, Hasan Aspahani, penyair yang telah menelurkan buku puisi Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering, menuliskan kisah hidup Chairil Anwar.

Dalam novel ini, pembaca kita akan lebih komprehensif mengetahui sejarah hidup Chairil Anwar sedari dia kecil. Bahkan semenjak halaman pembuka, Hasan Aspahani telah membuat pembaca tercengang karena kita disuguhi adegan Chairil Anwar yang dipanggil pihak Belanda akibat mendeklamasikan keras-keras bagian novel Sutan Takdir Alisyahbana.

" Di bagian lain, kita akan melihat bagaimana kata-kata bisa lahir dengan begitu digdaya," kata Teguh.

4. Milea

Novel ini adalah jawaban Pidi Baiq dari dua novel sebelumnya, Dilan bagian satu dan dua.

Pidi Baiq memang membuat kisah-kisah SMA enak dan penuh canda dibaca. Dari tiga buku seri ini, seharusnya novelis atau calon novelis Indonesia bisa menciptakan novel dengan begitu mudah.

" Angkat saja kisah-kisah dekat kita, ditulis dengan bahasa yang jernih, syukur bisa diwarnai dengan canda dan kelucuan yang menghibur," ucap Teguh.

5. O

Eka Kurniawan sedang menjadi fenomena baru di dunia sastra Indonesia. Namanya tengah menjadi pembicaraan dunia literasi Internasional.

Di novel ini, Eka tak membuat dialog panjang antartokoh seperti dua novel sebelumnya. Dia membuat cerita sepotong dengan kalimat dan kisah yang lugas.

Dalam novel ini Eka Kurniawan menggunakan alegori kebinatangan yang lucu. Semua benda, mau hewan, benda mati, semua pada bicara dan bertindak seperti manusia. Unik.

" Jadi pantas bila buku ini pun mendapatkan respon positif dari generasi milenial 2016," ucap Teguh.

6. Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Ini adalah novel paling segar sepanjang 2016. Yusi Avianto Pareanom memang lebih dikenal sebagai cerpenis, dan beberapa kali menerjemahkan.

" Kehadiran novel pertamanya ini jelas menggebrak penikmat buku. Tetapi kejutan ini tidak mengecewakan. Bahkan buku ini mampu meraih penghargaan tertinggi Kusala Sastra Khatulistiwa 2016," ucap Teguh.

Novel ini memang menghadirkan kembali cerita silat karya SH Mintarja, Ko Ping Ho, dengan lainnya. Raden Mandasia ini membawa aroma yang demikian. Silat yang segar dengan gaya penulisan mengalir dan seru. Yusi hadir sebagai pendongeng yang tak biasa saja.

7. Supernova: Intelegensia Embun Pagi

Serial ini merupakan satu-satunya serial novel yang paling banyak dari jumlah seri dan paling panjang masanya.

Konsistensi dan kekuatan Dewi 'Dee' Lestari membuat cerita kompak yang luar biasa dari awal sampai seri terakhir ini.

" Dari buku Supernova ini juga kita bisa melihat bahwa minat baca kita tak jelek-jelek amat. Buku setebal ini, tetap laris manis, dengan konten yang tidak bisa dianggap biasa-biasa saja," ujar Teguh.

8. The Architecture of Love

Buku ini menjadi fenomena baru dalam penulisan novel. Ika Natassa bertindak tidak sekadar ‘Tuhan’ dalam penciptaan. Ika Natassa melibatkan pembaca dengan memanfaatkan pollstory di twitter. Gebrakan yang baru penulisan novel.

Novel dengan genre urban ini akhirnya hadir dan melibatkan peran pembaca dalam penulisannya. Tak ayal bila buku ini hadir begitu mega-bestseller di tahun ini.

" Ika Natassa harus diakui sebagai penulis yang mampu menempatkan dirinya sebagai tokoh urban sebagaimana tokoh-tokoh dalam novelnya. Branding penulis yang begitu kuat, sehingga tokoh-tokoh dalam novel Ika hadir seolah hidup dari lingkungan Ika sendiri," kata Teguh.

9. The Book of Forbidden Feelings

" Buku ini mengingatkan kita bahwa membuat buku itu tidak sesusah yang kita bayangkan," ucap Teguh.

Lala Bohang yang mahir membuat gambar hitam-putih memadukan gambar karyanya dan tulisan-tulisan dalam bahasa Inggris yang bernuansa gloomy.

Buku ini hadir dalam kesan handmade yang dipadukan dengan tulisan penuh perasaan. Kreasi Lala Bohang ini membuatnya menjadi tren baru dalam perbukuan.

10. Tidak Ada New York Hari Ini

" Saya bisa bertaruh, kalau tidak ada buku puisi ini, buku-buku puisi tidak akan banyak hadir semasif sekarang," kata Teguh.

Buku ini memang fenomena yang luar biasa. Selain isi memang khas Aan Mansyur, buku ini juga memiliki konsep yang sangat matang.

Buku puisi, dilengkapi dengan fotografi, dan kemudian hadir dalam film laris Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2. Konsep super-matang ini benar-benar menghasilkan sebuah gelombang baru, khususnya dalam pernebitan buku puisi.

Topik Terkait :

Ini Definisi Standar Kilogram Baru Yang Ditetapkan BSN

Jangan Lewatkan