Cerita Tragis Dibalik 'Tembok Air Mata' Kepulauan Galapagos

Di kepulauan ini Charles Darwin menghasilkan teori evolusi dan seleksi alam, yang kemudian dikenal dengan Teori Darwin.

Puri Yuanita
| 19 Januari 2016 16:22

Dream - Kepulauan Galapagos dikenal dengan keragaman flora dan faunanya. Kepulauan ini dipopulerkan oleh Charles Darwin yang melakukan observasi mendalam di pulau itu selama pelayaran dari Beagle.

Di pulau inilah ia kemudian menghasilkan perkembangan teori evolusi dan seleksi alam, yang dikenal dengan Teori Darwin.

Sekarang, kepulauan dan perairan yang berada di sekitarnya dinobatkan menjadi Taman Nasional yang Dilindungi dan ditetapkan pula sebagai Cagar Laut Biologi. Serta resmi menjadi situs warisan dunia UNESCO.

Tetapi Kepulauan ini juga memiliki sejarah yang menyedihkan. Pada tahun 1832, pulau-pulau Galapagos yang " dicaplok" oleh Kolonel Ignacio Henandez menjadi bagian dari Republik Ekuador.

Menyusul setelah itu, dibangun sebuah tahanan koloni yang terpencil dan terisolasi dari daratan. Sehingga mustahil ada tahanan yang dapat melarikan diri dari tempat ini. Tahanan dari daratan dipindahkan ke pulau-pulau dan dipaksa untuk bekerja dalam bidang pertanian.

Prajurit-prajurit diasingkan dan diusir dari rumah. Mereka dipaksa untuk mengambil bagian dalam usaha kudeta yang gagal di daratan. Tapi kondisi jadi semakin mengerikan karena mengakibatkan sejumlah pemberontakan di tahun 1952.

Berbagai upaya dilakukan untuk menetap di Kepulauan Galapagos tetapi tidak ada yang berhasil. Manuel J. Cobos, yang membawa tahanan dan mewajibkan buruh untuk bekerja di ladang tebu dan perkebunan kopi, dibunuh oleh pekerja sendiri.

Lalu, José Valdizán yang dikontrak selama 12 tahun oleh Pemerintah Ekuador untuk bekerja di Galapagos, meninggal selama pemberontakan pada tahun 1878.

Menjelang akhir perang dunia kedua, Pemerintah Ekuador mendirikan tahanan koloni yang sama brutalnya di Pulau Isabela. Pada tahun 1946, sebanyak 300 tahanan dipindahkan ke Isabela dan dipaksa untuk membangun sebuah tembok batu yang tak bermanfaat sebagai bentuk hukuman.

Para tahanan harus berjalan jauh ke tambang, memotong batu-batu vulkanik yang besar, dan kemudian membawa mereka kembali ke situs. Banyak tahanan meninggal dalam penderitaan.

Akhirnya, pada tahun 1958 para tahanan memberontak. Para pejabat terkemuka dan para penjaga banyak yang dibunuh, serta banyak pula tahanan yang sekarat.
Pemerintah menutup koloni tahanan Isabela setahun kemudian.

Sisa-sisa dinding yang dibangun para tahanan masih tersisa sekitar 100 meter. Hingga saat ini masih dapat dilihat dari dekat Puerto Villamil. " Dinding sia-sia" ini merupakan bukti periode kekejaman dan penyiksaan tahanan sehingga dinamakan 'dinding air mata'.

(Sumber: Amusingplanet.com)

Topik Terkait :

Canggih, Restu Anggraini Desain Mantel dengan Penghangat Elektrik

Jangan Lewatkan