Menapak Jejak Islam di Uzbekistan

Uzbekistan merupakan pintu gerbang penyebaran Islam di Asia Tengah, China hingga Rusia.

Ahmad Baiquni
| 4 September 2019 09:00

Dream - Sahabat Dream, kita mungkin terlalu akrab dengan negara-negara macam Arab Saudi, Yaman, Irak, Suriah, Palestina, Mesir dan sebagainya. Bagi umat Islam, terutama di Indonesia, negara-negara ini merupakan 'anak kandung' peradaban Islam.

Di sana terdapat banyak sekali peninggalan Islam. Ini tidaklah mengherankan, sebab negara-negara tersebut pernah menjadi bagian dari pemerintah Islam.

Sebut saja Damaskus di Suriah, yang pernah dikendalikan Muawiyah bin Abi Sofyan sebagai Gubernurnya. Atau Mesir yang meraih kejayaan setelah dibebaskan oleh Sahabat Amr bin Al Ash dari cengkeraman tentara Romawi.

Begitu pula, kita sangat akrab dengan Suriah. Negara di utara Jazirah Arab ini dikenal sebagai Negerinya Para Mufti karena di sana lahir banyak sekali ulama terkemuka sepanjang sejarah Islam.

Banyak umat Islam Indonesia menyempatkan waktu berkunjung ke negara-negara itu. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menjadikan negara-negara tersebut sebagai destinasi kunjungan setelah menjalankan umroh di Tanah Suci Mekah dan Madinah.

Kita pernah mendengar negara bernama Uzbekistan. Tetapi, mungkin hanya ada sedikit Muslim maupun orang Indonesia berkunjung ke sana.

Padahal, negara ini menyimpan sejarah yang berharga bagi Indonesia, terutama umat Islam. Sebab, di sana ada Makam Imam Bukhari yang berdiri megah, ulama pencetus Ilmu Hadis.

 Uzbekistan

Uzbekistan merupakan salah satu negara yang terletak di kawasan Jalur Sutra. Di masa lalu, jalur tersebut dilewati para pedagang yang bermigrasi dari dataran China menuju kawasan Asia Barat dan Timur Tengah maupun sebaliknya.

Karena perannya sebagai kawasan transit, budaya di Uzbekistan dipengaruhi beberapa unsur yaitu Timur Tengah, Mongol, China sekaligus Eropa. Hal ini bisa kita temukan dari corak arsitektur bangunannya yang sangat kental dengan nuansa Timur Tengah, Eropa dan China.

Di masa modern, Uzbekistan merupakan salah satu negara pecahan Uni Soviet. Namun begitu, Islam memiliki pengaruh sangat kuat lantaran sudah tersebar cukup lama di negara ini.

Beberapa kota di Uzbekistan tercatat memiliki peran sangat penting dalam penyebaran ajaran Islam. Dari sekian banyak kota, ada dua yang cukup tersohor yaitu Samarkand dan Bukhara.

Samarkand merupakan salah satu kota tertua di Uzbekistan. Kota ini berdiri selama lebih dari 3000 tahun dan pernah ditaklukan oleh Aleksander Agung pada 329 SM.

Islam masuk ke Samarkand di masa Dinasti Umayyah. Kota ini ditaklukkan oleh Gubernur Khurasan, Khutaiba bin Muslim pada 712 Masehi atas perintah dari penguasa Dinasti Umayyah, Khalifah Abdul Malik.

Setelah berada dalam genggaman Dinasti Umayyah, Samarkand mengalami perkembangan pesat menjadi kota yang maju. Bahkan, Samarkand menjadi jantung penyebaran Islam di Asia Tengah, China hingga Rusia.

Samarkand juga memjadi pusat pengembangan keilmuan Islam. Tercatat banyak sekali ulama Islam kondang lahir dari kota ini. Abu Bakr As Samarkandi, Muhammad Addi As Samarkandi, Abu Manshur Al Maturidi, bahkan Imam Al Bukhari adalah deretan nama ulama besar dari kota ini.

Khusus untuk Imam Al Bukhari, Samarkand memiliki peran sangat penting dalam biografi keilmuannya. Di kota ini, Imam Al Bukhari dimakamkan.

 Uzbekistan

Imam Al Bukhari lahir di Bukhara dengan nama asli Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah Al-Ju'fi Al Bukhari. Kota ini letaknya tidak jauh dari Samarkand. Ayahnya, Ismail, terkenal sebagai ulama hadis terkemuka. Sayang, Imam Al Bukhari tidak pernah belajar langsung kepada sang ayah karena sudah meninggal ketika ia masih kecil.

Lingkungan menjadikan Bukhari kecil mencintai ilmu. Dia belajar dari sejumlah buku peninggalan ayahnya. Sejak kecil, Bukhari memiliki kecerdasan yang tinggi dan daya hafal yang kuat.

Rasa haus akan ilmu pada Bukhari begitu tinggi. Merasa apa yang didapat di lingkungannya masih kurang, Bukhari mendatangi sejumlah ahli hadis yang tinggal di dekat tanah kelahirannya.

Lambat laun, aktivitas itu berkembang menjadi pengembaraan. Bukhari muda mengunjungi negeri-negeri nun jauh, menemui para tokoh dan mengumpulkan hadis dari mereka. Dia juga menjalankan seleksi sangat ketat pada hadis sehingga bisa dijadikan rujukan atau tidak. Buah pengembaraannya masih digunakan hingga sekarang, salah satunya Shahih Bukhari, kitab berisi hadis-hadis shahih yang dikumpulkan Imam Al Bukhari.

Itulah kisah sejarah yang tersimpan di Uzbekistan. Berkunjung ke sana untuk ziarah adalah hal yang tepat. Selain liburan, kita bisa menimba pengetahuan mengenai sejarah Islam yang kaya.

Sumber: letsgouzbekistan

Topik Terkait :

Yenny Wahid Rilis Produk Kecantikan Halal

Jangan Lewatkan