Mengintip Keistimewaan Desa Tunarungu di Bali

Desa ini menjadi istimewa karena masing-masing penduduk berkomunikasi menggunakan kata "kolok" atau bahasa isyarat.

Puri Yuanita
| 16 Januari 2016 18:45

Dream - Bengkala merupakan sebuah desa terpencil di Pulau Bali yang memiliki jumlah penduduk sekitar 3000 orang. Desa ini menjadi istimewa karena masing-masing penduduk berkomunikasi menggunakan kata " kolok" atau bahasa isyarat.

Tradisi ini sudah berlangsung sejak beberapa abad lalu. Meskipun masyarakat di desa tersebut memiliki keterbatasan pendengaran, tapi mereka saling memperlakukan dengan hormat.

Bahkan di desa ini, banyak orang yang mempelajari bahasa isyarat. Hal itu memang terlihat sangat aneh, tapi ada alasan kuat yang melatarbelakangi tradisi unik ini. Sebuah cerita terkenal menyebutkan ada dua orang yang memiliki kekuatan sihir berperang satu sama lain, lalu dikutuk menjadi tuli.

Ida Mardana, Walikota Desa Bengkala menjelaskan makna dari Bengkala adalah 'tempat bagi seseorang untuk menyembunyikan'. Hingga saat ini ada 42 kolok (desa tuli dan bisu) yang membentuk komunitas di Bengkala.

Alih-alih mengalami diskriminasi atau belas kasihan, mereka justru dianggap memiliki fisik yang lebih kuat dan tangguh. Serta lebih setia dan jujur. Kualitas karakter mereka begitu terkenal di Bali, hingga para kampung tetangga datang kepada mereka untuk mencari tempat tinggal dan perlindungan.

Mereka juga kerap direkrut sebagai pecalang, penjaga keamanan tradisional di Bali. Menurut penilaian beberapa orang, aparat desa dan penjaga kolok lebih disiplin ketimbang mereka yang berasal dari desa lainnya.

Contohnya, saat diminta untuk datang bekerja pukul tujuh pagi, mereka biasanya datang lebih awal. Selain itu, mereka juga memiliki memori yang bagus mengenai sejarah desa.

Masyarakat kolok akan bertindak lebih agresif saat menyaksikan suatu ketidakadilan. Mereka juga merupakan orang-orang yang berhati baik dan sabar.

Meskipun jumlah kolok hanya sedikit, tapi mayoritas warga desa tidak mengalami kesulitan untuk berkomunikasi. Sejauh ini, masyarakat Bengkala pasti akan mengajarkan bahasa isyarat kolok kepada anak-anak mereka sebagai bahasa kedua atau ketiga, sehingga tradisi tidak pernah mati.

Menurut penulis Matt Alesevich, generasi muda tunarungu di Bengkala Mulai mengenal bentuk komunikasi baru, dengan mengoperasikan ponsel pintar (smartphone), media sosial dan bahasa isyarat internasional.

Beberapa dari mereka bahkan telah terdaftar di asrama-asrama sekolah luar biasa. Di mana mereka belajar bahasa isyarat dan berinteraksi dengan komunitas yang lebih besar dari orang-orang tunarungu di negara ini.

Meskipun upaya ini baru membuahkan lima warga kolok yang terpelajar. Tapi ini merupakan bukti bahwa warga kolok ingin menjadi orang yang lebih baik.

" Saya ingin mereka mulai terlibat dengan masyarakat, sehingga mereka dapat membantu diri mereka sendiri dan mendapatkan pendapatan yang lebih baik," terang Mardana.

Selama bertahun-tahun, Bengkala telah dikunjungi sejumlah sosiolog internasional. Bahkan wisatawan yang juga mengalami tunarungu. Mereka datang untuk belajar atau sekadar bertemu masyarakat di sana.

Daya tarik terbesar di kota ini adalah 'Minak kolok' atau tari dari tuli, sebuah gaya tarian yang dikembangkan secara khusus untuk orang-orang kolok. Selama 30 tahun atau lebih, 16 penari Minak kolok melakukan pentas panggung sekitar tiga kali dalam sebulan.

Mereka melakukan gerakan tarian secara sinkron, melangkah sempurna dalam waktu yang tepat bersamaan antara satu dengan yang lain. Mereka tidak memakai alat apa-apa, hanya syarat visual untuk menjaga irama.

Para penari juga tampil di universitas setempat, bahkan juga tampil di Bali Krishna, pameran modern di Bali Utara. Mardana mengatakan bahwa keuntungan dari pertunjukan tersebut diberikan kepada penari. Sehingga mereka dapat menjaga kelestarian seni untuk meningkatkan sektor pariwisata.

Laporan dari Alesevich menyebutkan bahwa Desa Bengkala ingin lebih memanfaatkan hal ini untuk meningkatkan pendapatan. Selain itu mereka juga ingin menaikkan jumlah kunjungan pariwisata ke desa mereka untuk memperkenalkan kerukunan antarmasyarakat kolok yang sudah masyhur di Bengkala.

(Sumber: Odditycentral.com)

Topik Terkait :

Belum Selesai, Pembangunan MRT Fase 2 Baru Dimulai

Jangan Lewatkan