Cerita Kelam di Balik Canggihnya Kereta Bawah Tanah Jepang

Di balik canggihnya sistem transportasi di Negeri Sakura, ternyata ada kisah kelam yang terselip.

Ratih Wulan
| 31 Agustus 2016 14:33

Dream - Selama ini, jaringan kereta di Jepang terkenal ke seluruh dunia karena ketepatan waktunya. Di ibukota Tokyo, hampir 40 juta penumpang menggunakan transportasi kereta setiap hari. Bahkan jumlah ini lebih banyak dari pengguna bus atau mobil pribadi.

Dari jumlah tersebut kemudian tercatat sebanyak 22 persen atau 8,7 juta orang memaanfaatkan kereta bawah tanah.

 Jepang

Jaringan kereta bawah tanah di Tokyo merupakan sebuah keajaiban transportasi. Kereta akan datang setiap lima menit sekali pada jalur berbeda. Sedangkan pada puncak kesibukan kereta malah bisa datang lebih cepat yaitu sekitar 2-3 menit sekali. Kemudian sebanyak 24 kereta akan datang dalam satu arah.

Meskipun puluhan kereta telah dikerahkan namun tetap saja akan penuh sesak, terutama di jam sibuk. Dikutip dari laman Kementerian Pertahanan, Infrastruktur dan Transportasi Jepang, data di tahun 2007 merinci tingkat kemacetan di tiap stasiun berbeda. Dan seperti yang terlihat pada foto-foto berikut ini bahwa hampir semua kereta berjalan 200 persen melebihi kapasitas.

 Jepang

Untuk membuat kereta mampu menampung hingga dua kali lipat, stasiun mempekerjakan staf berseragam yang dikenal sebagai oshiya. Mereka adalah orang-orang yang bertugas mendorong masuk penumpang yang telah berjejal agar muat sebanyak mungkin ke arah dalam.

Hiiieee.. Lebih seram dari kondisi penumpang KRL di Indonesia ternyata ya. Pasalnya para oshiya ini benar-benar tega mendorong penumpang dengan sekuat tenaga. Dengan mengenakan sarung tangan putih, mereka terlihat memaksa penumpang masuk lebih dalam agar tidak terjepit pintu kereta.

Pertama kali mereka dibawa ke Stasiun Shinjuku, Tokyo dan diperkenalkan sebagai Staff Pengaturan Penumpang. Dan sebagian besar terdiri dari mahasiswa yang bekerja paruh waktu. Staf ini hanya mengerjakan tugas mereka di jam-jam sibuk saja.

 Jepang

Hingga saat ini, keberadaan mereka tetap tidak disukai karena dikenal suka mendorong penumpang seperti seorang musuh. Bahkan mereka kerap mendapat julukan sebagai 'pengepak sarden'. Kebrutalan para staf kadang-kadang disorot juga pemberitaan nasional.

Namun seiring berjalannya waktu, kereta mulai diubah menjadi lebih modern dengan kontrol pintu otomatis. Sehingga oshiya mulai banyak yang kehilangan pekerjaan pada 1920.

Cerita ini kembali menyeruak ke hadapan publik setelah seorang fotografer Hong Kong pada 2012 silam menggelar pameran foto bertema Tokyo Compression. Dimana foto-foto yang ditampilkan menunjukkan ekspresi trauma dan sedih dari para penumpang. Sebagian terlihat sangat kesakitan karena terlalu mepet dengan kaca jendela kereta.

Foto-foto ini menunjukkan betapa mengerikan dan memalukan situasi di dalam kereta bawah tanah. Tubuh penumpang begitu berdesakan terhadap satu sama lain dan kebanyakan orang tidak dapat bergerak.

Orang-orang yang bertubuh pendek berisiko terinjak oleh yang lebih besar. Selain itu saat turun pun mereka kesulitan melangkah keluar. Belum lagi kesulitan evakuasi saat terjadi kondisi darurat seperti kebakaran. Para penumpang juga berisiko menjadi korban tindak kriminalitas seperti pencopetan dan pelecehan seksual.

(Sumber: Amusingplanet.com)

Topik Terkait :

Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone

Jangan Lewatkan