Megahnya Tokyo Camii, Masjid Terbesar di Jepang

Semua bahan bangunan dan perabotan yang digunakan di masjid ini dibawa dari Turki.

Sandy Mahaputra
| 17 April 2018 16:40

Di jantung daerah pemukiman yang tenang di Yoyogi Uehara, tidak jauh dari pusat kota Shinjuku dan Harajuku, berdiri sebuah bangunan dengan kubah dan menara yang megah. Jika dilihat dari segi arsitekturnya, Anda pasti akan menebak itu bukanlah ciri khas Jepang.

Ini adalah Tokyo Camii, masjid terbesar di Jepang, dibangun dengan gaya Ottoman yang mengesankan. Tak banyak yang tahu, kantung-kantung budaya Islam tumbuh subur di Negeri Sakura.

Kini, masjid dapat ditemukan di seluruh kota-kota besar di Jepang. Wisata halal di negara ini pun kian hari semakin berkembang pesat.

Camii adalah bahasa Turki yang berasal dari bahasa Arab jami, yang berarti " jemaat masjid" atau sebuah masjid besar di mana orang berkumpul untuk sholat Jumat. Tokyo Camii, masjid terbesar di Jepang ini memiliki arsitektur yang mirip dengan Masjid Biru yang terkenal di Istanbul.

Selain air, beton, dan baja, semua bahan bangunan dan perabotan yang digunakan di masjid ini dibawa dari Turki. Sekitar seratus pengrajin Turki bekerja selama setahun untuk membangun masjid berlantai dua itu, termasuk pusat budaya di lantai bawah. Bangunan itu sendiri adalah sebuah karya seni.

Nurullah Ayaz, Imam di masjid Tokyo Camii menuturkan baru pada abad ke-20 komunitas Muslim pertama kali berdiri di Jepang.

" Masjid pertama di Tokyo dibangun oleh orang Tartar yang datang ke Jepang sebagai pengungsi setelah Revolusi Rusia pada tahun 1917. Mereka adalah kelompok Turki yang berasal dari Asia Tengah, yang datang ke Jepang melalui Siberia dan China."

" Sebagai Muslim, hal pertama yang ingin mereka lakukan di Jepang adalah membangun sekolah untuk anak-anak mereka dan mendirikan sebuah masjid di mana komunitas bisa berdoa. Muslim ini menerima izin dari pemerintah Jepang pada tahun 1928, dan sekolah dibuka pada tahun 1935. Masjid pertama selesai tiga tahun kemudian, pada tahun 1938," kata Nurullah Ayaz seperti dikutip dari Nippon.com, Selasa 17 April 2018.

Islam dan Jepang: Lebih Dekat dari yang Dipikirkan

Sholat Jumat di Tokyo Camii dihadiri oleh jemaat yang jumlahnya terus bertambah, kebanyakan dari mereka lahir di luar negeri. Dengan meningkatnya jumlah Muslim baru-baru ini, khususnya dari Asia Tenggara, khotbah Jumat sekarang diberikan dalam bahasa Turki, Jepang, dan Inggris. Bukan lagi bahasa Arab.

Imam Nurullah mengatakan, dia ingin orang Jepang merasa nyaman dan diterima di masjid-masjid yang ada di negara mereka sendiri.

“ Kami mencoba memberi pengunjung penjelasan sederhana tentang Islam. Kami memberi mereka arahan singkat tentang etika ketika mengunjungi masjid. Misalnya, wanita menutupi kepala mereka dengan jilbab sebelum mereka memasuki masjid. Kami memiliki kain kepala yang tersedia di pintu masuk bagi orang-orang untuk menutupi rambut dan kulit yang terbuka," katanya.

Ia pun memberitahu mereka bahwa pria tidak bisa masuk ke masjid dengan celana pendek yang memperlihatkan kaki. Dan orang-orang harus menahan diri dari percakapan saat doa sedang berlangsung. Fotografi tidak diizinkan tanpa izin khusus.

Salah satu kesopanan yang Nurullah ingin para pengunjung ikuti adalah menghormati orang-orang yang sedang sholat dengan tidak memotong atau berjalan di depan mereka. “ Maksudnya adalah bahwa seharusnya tidak ada yang menghalangi antara Anda dan Allah ketika Anda sedang berdoa. Memotong orang yang sedang berdoa sama saja dengan memutuskan hubungan antara penyembah dengan Allah."

Seorang warga Jepang, Okabe Yoshiko, mengaku kagum dengan masjid Tokyo Camii ini. Ia sangat menghormati Muslim yang berdoa di sana.

“ Sayangnya, Jepang saat ini terputus dari alam semesta. Datang ke tempat yang sakral seperti masjid ini seperti menggerakkan roh. Hatimu menjadi tenang dan menyatu dengan alam semesta," tuturnya.

Nasser, seorang turis asal Perancis mengunjungi Jepang dari Dubai, tempat dia sekarang bekerja. “ Saya mengetahui tentang Tokyo Camii di internet. Selain Tokyo, saya juga mengunjungi Kyoto dan Hiroshima. Di mana-mana hebat. Saya terutama ingin datang melihat kubah Bom Atom di Hiroshima. Saya pikir Jepang adalah negara yang sangat spiritual. Orang-orang baik dan menghormati nilai-nilai orang lain, semuanya terasa sangat alami,” ujarnya.

Topik Terkait :

Adu Akting dengan Betari Ayu, Alvin Faiz Ceritakan Respon Sang Istri

Jangan Lewatkan