Menyaksikan Wajah Baru Atraksi Tari Kecak Pura Uluwatu

Pura Uluwatu harus menerapkan pola normal baru agar pariwisata tetap berjalan.

Ahmad Baiquni
| 25 Agustus 2020 18:37

Dream - Covid-19 memaksa semua pihak untuk beradaptasi. Kebiasaan baru pun muncul akibat pandemi yang belum juga mereda.

Tidak terkecuali di sektor pariwisata. Sejumlah pengelola destinasi harus menerapkan kebiasaan baru demi mencegah penularan Covid-19.

Hal ini pulalah yang dilakukan pengelola Pura Uluwatu. Tempat ibadah yang menjadi destinasi wisata terkenal karena atraksi tari kecaknya ini menerapkan secara ketat protokol kesehatan baik pada pemain, karyawan, maupun penggunjung.

Manager Pura Uluwatu, I Wayan Wijana, mengatakan menghentikan atraksi sepenuhnya bukan menjadi jalan keluar yang tepat. Sebab, dampak yang timbul justru lebih banyak.

" Kalau tidak ada pertunjukan tari kecak, kawasan objek wisata Pura Uluwatu sangat sepi. Kami yakin dengan adanya tari kecak di era normal baru, pariwisata di Bali, khususnya Uluwatu, akan bertumbuh dan berkembang lagi," ujar Wijana, dikutip dari Liputan6.com.

Demi beradaptasi dengan normal baru, pengelola Pura Uluwatu membuat sejumlah perubahan. Seperti, para penari tidak bertopeng diharuskan menggunakan masker dan face shield, jumlah penari dikurangi dan koreografi diatur sebisa mungkin agar pemain tetap bisa menjaga jarak.

Bagi pengunjung, menggunakan masker adalah wajib. Selain itu juga harus mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer serta duduk dalam posisi berjarak antara satu dengan lainnya.

Pura Uluwatu menjadi proyek percontohan penerapan transaksi digital. Sistem pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesia Standart (QRIS) sehingga pengunjung bebas dari ancaman penularan Covid-19 ketika beli tiket atau kebutuhan lainnya.

" Dengan adanya penerapan alat pembayaran digital QRIS, maka dapat menjadi salah satu solusi untuk memulihkan serta membangkitkan pariwisata dan ekonomi kreatif di Uluwatu, Bali," kata Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf, Wawan Gunawan.

Dalam kondisi normal sebelum pandemi Covid-19, kunjungan ke Pura Uluwatu bisa mencapai 6.000 hingga 8.000 orang per hari. Setelah dibuka kembali usai tutup akibat pandemi, jumlah pengunjung belum sepenuhnya pulih.

" Wisatawan cenderung mencari layanan yang menerapkan protokol kesehatan seperti jaga jarak dan menghindari kontak fisik secara langsung," kata Gubernur Bali, I Wayan Koster.

Keamanan dan kenyamanan wisatawan menjadi kunci pemulihan sektor pariwisata. Koster berharap seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku pariwisata dan masyarakat, dapat menerapkan protokol kesehatan dengan benar, disiplin, berkomitmen, dan bertanggung jawab.

" Jika hal ini dijalankan dengan benar, saya berharap pada triwulan IV sektor pariwisata di Bali sudah lebih membaik dari yang sekarang. Sehingga di tahun 2021, Bali sudah positif atau menjadi zona hijau secara keseluruhan," kata Koster.

Topik Terkait :

Streaming Catat! Ini Cara Menyimpan Uang Rp75 Ribu Agar Tak Mudah Rusak

Jangan Lewatkan