Si Cantik Henderson yang Kini Seperti Neraka

Realita ini sangat menyedihkan, padahal pulau ini merupakan warisan dunia.

Dwifantya
| 25 April 2018 18:15

Dream - Henderson adalah pulau yang tak terjamah manusia di Samudera Pasifik dan menjadi warisan dunia. Namun sayang, sampah menumpuk di pulau terpencil itu.

Realita ini sangat menyedihkan, di sebuah pulau tak berpenghuni yang jaraknya 5.000 kilometer dari daratan utama, masih saja dipenuhi oleh sampah. Pantai berpasir putih ini penuh sesak dengan sampah, mulai dari jaring ikan, pelampung, botol air, helm, dan potongan-potongan plastik besar persegi panjang.

Dilansir Amusing Planet, Rabu 25 April 2018, para peneliti memperkirakan ada sekitar 38 juta keping plastik, dengan berat total 18.000 kg, tersebar di sekitar perairan pulau itu. Mayoritas puing-puing — sekitar 68 persen — bahkan tidak terlihat. Mereka terkubur di bawah pasir.

Setiap meter persegi pantai Henderson memiliki antara 20 sampai 670 keping plastik di permukaan dan antara 50 sampai 4.500 buah yang terkubur setinggi 10 sentimeter. Sekitar 3.750 potongan sampah baru 'datang' di pantai utara pulau itu setiap hari. Jika perkiraan ini benar, Pulau Henderson mungkin memiliki kepadatan pencemaran plastik tertinggi yang dilaporkan di mana pun di dunia.

Dari mana semua sampah ini berasal?

Kolam raksasa yang disebut laut, tentu saja. Pulau Henderson terletak di pinggiran Southern Pacific Gyre, sebuah arus laut besar berputar antara Australia dan Amerika Selatan, yang dibatasi oleh Khatulistiwa.

Pola rotasi gyre menarik sampah dari seberang Samudera Pasifik Selatan dan benua-benua yang jauh dan menyimpannya di pantai Henderson. Fenomena serupa terjadi di belahan bumi Utara, di mana plastik dari sekitar Samudera Pasifik Utara memenuhi pantai Kamilo Hawaii.

Jennifer Lavers, seorang ilmuwan di University of Tasmania yang memimpin penelitian, telah menelusuri sumber puing-puing di Pulau Henderson ke 24 negara berbeda dari setiap benua.

Setelah tanah plastik di pulau itu, radiasi sinar UV matahari membuat plastik rapuh dan mereka pecah menjadi ratusan atau bahkan ribuan keping, beberapa di antaranya kurang dari 2 milimeter. Mereka terkubur di pasir dan menjadi bagian permanen dari pulau itu.

Topik Terkait :

BERANI BERUBAH: Bunga Rezeki dari Rak Bunga - Berani Berubah

Jangan Lewatkan