10 Jam Menuju Rumah Allah

Panggilan ke Tanah Suci itu memanggil. Inilah kisah perjalanan Dream selama menjalani umroh.

Syahid Latif
| 13 Maret 2019 08:10

Dream - Rasa kantuk terlihat dari wajah dua wanita paruh baya. Seorang pria di sisi kirinya tampak melipat tangan depan dada. Matanya sebentar terbuka dan tertutup. Berusaha memejamkan mata untuk tidur namun selalu gagal.

Di depan dan belakang mereka, mengantre sejumlah pria dan wanita. Sebagian sudah berusia senja. Mereka kompak berpakaian seragam batik. Sebagian berwarna biru yang lainnya kuning. Hilir mudik mencari tempat duduk. Sesekali melihat secarik kertas tiket di tangan. Mencocokkan nomor kursi dengan seat yang tertera di tiket.

Kesibukan itu terlihat jelas dalam kabin Boeing 787 Dreamliner, pada Sabtu, 23 Februari 2019. Jam baru menunjuk angka 4 sore waktu Singapura. Pesawat berbadan lebar itu milik maskapai Scoot Airlines.

Seluruh kursi berjumlah 333 seat terisi penuh. Mulai dari kelas ekonomi sampai bisnis. Dream termasuk salah satu diantara penumpang tersebut. Duduk di deretan dekat lorong, aktivitas penumpang bisa terlihat jelas.

Di pembuka libur akhir pekan itu, seluruh penumpang tengah menanti undangan dari Sang Khalik. Menjalani ibadah suci Umroh ke Tanah Suci. 

Samar-samar terdengar suara dari pengeras suara pesawat. Logat seorang pria Inggris melayu. Menyapa penumpang yang sedari tadi telah duduk di kursi sesuai nomor seatnya.

 Umroh dari Singapura

(pesawat Scoot Airline/Foto: Dream.co.id)

 

Hening sejenak, deru mesin pesawat perlahan-lahan semakin keras. Pesawat berjalan pelan. Menjauh dari Gardabrata. Lampu kabin mulai redup sebelum akhirnya benar-benar gulita. Sedari tadi pramugari dan pramugara Scoot Airlines sudah duduk di kursinya.

" Take off position," begitu pengumuman terakhir dari kapten pesawat saat Dreamliner 787 mulai melaju cepat sebelum akhirnya melayang. Hitungan menit, pesawat buatan Boeing itu mengangkasa.

Tetiba lamunanku kembali ke tangal 3 Januari 2019. Sekitar jam 12.45 siang sebuah email masuk ke redaksi Dream. Tertera nama pengirim Adisti Dini Indreswawi. Dari namanya kuduga seorang wanita.

Subjek email itu bertulis Undangan Media Trip Umroh Bersama Scoot. Hati bergetar manakala membaca isi email itu. Seorang jurnalis Dream diundang untuk merasakan secara langsung perjalanan umroh.

Whatsapp Grup editor Dream mendadak ramai. Mengumumkan undangan tersebut. Kami memang cukup terkejut. Setelah beberapa kali mengirimkan Sahabat Dream pergi umroh ke Tanah Suci, kini panggilan suci itu memanggil awak redaksi Dream.

Hari itu belum ada keputusan siapa jurnalis Dream yang akan memenuhi panggilan suci tersebut. Satu per satu calon tamu Allah SWT ditawari undangan itu. Tak semua bisa berangkat. Alasannya beragam. Belum pantas, tak siap, sampai ketakutan mendapat balasan di Tanah Suci.

Hingga ketuk palu akhirnya diputuskan. Saya, Syahid Latif, ditugaskan untuk menghadiri undangan tersebut. Tak sekadar liputan, ini adalah undangan dari Allah SWT untuk menjadi tamunya di Masjidil Haram dan Nabawi.

Lamunanku mendadak buyar. Terdengar seorang pramugari menyapa. Dia membawa troli berisi makanan. Rupaya penerbangan ini sudah berlangsung hampir dua jam. Waktu bagi penumpang mengisi perut yang memang sudah keroncongan.

Sebungkus nasi terhidang di meja di belakang kursi pesawat. Terbungkus alumunium yang membuatnya tetap hangat. Pesawat kembali senyap. Semua penumpang lahap menyantap hidangan.

Berselancar di Udara

Penerbangan panjang memang membuat kami mudah lelah. Rasa kantuk sering kali menyerang. Apalagi sarana hiburan penumpang terbatas. Namun kali ini berbeda.

Seorang rekan kami mulai menjajal membuka gawai. Otak-atik tombol di ponsel. Wajahnya mulai sumringah. " Bisa," jawab wanita yang kami sapa Mbak Aya itu.

Rupanya dia baru saja membuka fasilitas televisi. Pesawat ini memang berbeda. Tak ada layar di belakang kursi penumpang. Hiburan kini beralih ke layar ponsel di genggaman. Mbak Aya baru saja sukses masuk ke fitur Scoot TV. Dengan akses yang mudah, kami bisa menikmati tayangan video di fitur itu.

Scoot TV memang salah satu fasilitas yang disediakan Scoot untuk menemani penumpang menghabiskan waktu perjalanan. Pilihan film yang bisa ditonton beragam. Mulai genre anak-anak hingga film serius semisal The Star is Born yang sedang hype di layar bioskop.

" Banyak penumpang memberi tahu kami alasan mereka memilih penerbangan jarak jauh low-cost bersama Scoot adalah karena armada berbadan lebar Boeing 787 Dream liner yang canggih. Kami dengan dengan hati menunjukkan kepada Anda," ujar Vinod Kanna, Scoot Chief Commercial Officer dalam pernyataan tertulisnya.

Kami memang cukup beruntung bisa menikmati fasilitas ini. Ditambah lagi terdapat colokan daya listrik di bawah kursi. Tak perlu khawatir baterai ponsel terkuras karena tontonan yang panjang. Penumpang lain yang ingin menonton sebetulnya bisa ikut merasakan hiburan di atas pesawat ini. Tentunya ada biaya yang harus dikeluarkan.

 Umroh dari Singapura

(Suasana kabin pesawat Scoot Airlines/Foto: Dream.co.id)

Hari itu aku melewatkan fasilitas hiburan ini. Mata sudah mengantuk sejak terbang siang tadi dari Bandara Soekarno-Hatta. Tak cukup kuat menonton film yang sangat panjang. Tapi perhatianku teralihkan dengan fasilitas lain. Berselancar di dunia maya selama penerbangan. Lagi-lagi kami diajak menjajal fasilitas ini. Sebuah paket kuota 80 MB. Sudah cukup untuk mengirim satu atau dua kali foto selfie ke fitur Insastory Instagram.

Malam makin larut, hampir semua penumpang sudah kembali ke peraduan. Tertidur pulas di dalam kabin yang mulai dingin. Selimut berwarna kuning khas Scoot sudah cukup menghalau dingin.

Tak terasa penerbangan kami sudah hampir berlalu delapan jam. Pramugari Scoot yang berseragam hitam beraksen kuning di bahu kembali menyapa. Membawa makanan ringan untuk kami santap. Biasanya makanan ini datang saat pesawat segera mendarat.

Tebakan itu tepat. Beberapa waktu kemudian suara pilot kembali terdengar. Mengumumkan pesawat segera mendarat di Bandara King Abdul Aziz. Penerbangan kami ke Jeddah akan segera sampai. Pilot mengabarkan kondisi di darat. Kami akan tiba sekitar pukul 7 malam. Perbedaan waktu Saudi dan Indonesia adalah empat jam.

Terdengar roda pesawat turun dari body pesawat. Pertanda pesawat akan segera mendarat. Sekitar pukul 8 malam kami mendarat di Jeddah. Perasaan berkecamuk. Tak percaya raga ini sebentar lagi bertemu Baitullah. Namun perjalanan masih jauh. Kami harus keluar terlebih dahulu dari Bandara ini. Sebuah tanda cap dari petugas imigrasi menjadi awal perjalanan kami di negeri Saudi.

Dingin Madinah Menyambut Kami

 Umroh dari Singapura

(Suasana depan Masjid Nabawi di kala subuh/Foto: Dream.co.id)

Perjalanan kami belum berakhir. Ibadah umroh kami akan dimulai dari Madinah. Usai menunaikan sholat Isya dan Magrib yang kami jama, kami merebahkan sejenak badan. Satu per satu ponsel mulai menyala. Memeriksa akses internet yang telah disediakan panitia.

Di pelataran parkir, sebuah bus dan seorang sopir berwajah Indonesia telah menunggu kami. Tertera nama Maaden Transportation di badan bus berwarna merah itu. Bus bisa mengangkut 55 penumpang. Rombongan kami yang berjumlah 11 orang tentu sangat dimanjakan. Bisa memilih sesuka hati tempat duduk.

" Mau 4, 5, atau 6 jam sampai ke Madinah," tantangnya kepada kami. Itu adalah waktu tempuh kami menuju Madinah. Kota dimana Nabi Muhammad hijrah dari kejaran kaum Quraisy.

Sepanjang perjalanan kami hanya bisa tertidur. Pemandangan di luar memang cukup gulita. Hanya samar terlihat gurun berbatu di kanan dan kiri jalan. Tak ada aktivitas lain selain tidur. Bus memang melaju relatif cepat tapi tak boleh ngebut. Meski malam, sopir tak berani tancap gas. Semua sudah ada aturannya. Bus tak boleh mengebut atau melaju pelan. Melanggar, siap-siap terkena tilang.

Tak terasa kota Madinah sudah di depan mata. Pemandangan berubah menjadi bangunan-bangunan khas tanah Arab. Tak ada atap kerucut seperti di Tanah Air. Hanya atap rata namun tertata cukup rapi. Makin ke dalam, suasana kota semakin terasa. Bangunan rumah berganti kawasan perhotelan. Mencakar tinggi di beberapa sudut kota.

Dari kejauhan menara Masjid Nabawi mulai terlihat. Terang benderang diantara bangunan-bangunan tinggi. Hati kembali bergetar. Inilah momen yang dinantikan banyak umat muslim dunia. Menginjakan kaki di tanah Nabi. Sejenak kulihat jam di gawai. Sudah pukul 5 subuh. Perasaan sedih melanda. Sholat subuh pertama di Madinah terlewat. Sampai kulihat di balik jendela. Orang-orang berpakaian serba putih banyak berlalu lalang. Berduyun searah menuju tempat yang sama.

Bus berhenti di pinggir jalan. Kami sudah sampai di hotel tempat menginap. Pintu bus mulai terbuka. Kami turun satu per satu membawa tas kecil yang sengaja tak dibawa masuk bagasi.

Cuaca dingin Madinah menyambut kami subuh itu. Tepat beberapa ratus meter, payung-payung besar Masjid Nabawi terlihat. Lantunan azan mulai terdengar. Subhanallah, kami belum terlambat. Waktu subuh di Madinah bulan ini memang sedikit lebih pagi. Sekitar jam 5.30. Bergegas kami ke kamar yang sudah ditentukan. Meletakkan tas besar dan langsung turun bergegas. Bismillah, inilah subuh pertamaku di Masjid Nabawi. Di rumahmu ya Rasulullah.

(Artikel ini merupakan tulisan berseri Dream dalam perjalanan umroh ke Tanah Suci 23 Februari-3 Maret 2019. Terhitung hari ini, Dream akan menyajikan kisah-kisah perjalanan saat menjalanan panggilan haji kecil umroh. Labbaik Allahumma Umrotan)

Intip Harga dan Spesifikasi Mobil Dinas Baru Jajaran Menteri Jokowi

Jangan Lewatkan