Kisah Mata Air Zubaidah dan Perjalanan Jemaah Haji di Mekah

Bukan sembarang mata air, mata air Zubaidah menyimpan kisah menarik seputar sejarah perkembangan ibadah haji di Mekah.

Puri Yuanita
| 25 Agustus 2015 12:31

Dream - Di Arab Saudi, tepatnya di Wadi Nu'man, Mekah, terdapat sebuah peninggalan bersejarah berupa mata air yang bernama mata air Zubaidah.

Bukan sembarang mata air, mata air Zubaidah menyimpan kisah menarik seputar sejarah perkembangan ibadah haji di Mekah. Dahulu, mata air Zubaidah merupakan tempat yang sangat bermanfaat bagi penduduk Mekah dan jemaah haji yang datang ke sana.

Dikisahkan, mata air ini dibangun pada masa Abbasiyah oleh istri Khalifah Harun Al-Rasyid yang bernama Zubaidah. Kala itu, Zubaidah melakukan perjalanan haji dari Baghdad menuju Mekah.

Tiba di Mekah, ia mendapati kota itu sedang mengalami krisis kekurangan air untuk minum para jemaah haji. Air sulit dicari dan harganya pun tak bisa dijangkau oleh para jemaah haji yang sedang membutuhkan minum.

Melihat kondisi itu, muncul inisiatif baik dari Zubaidah untuk membuat proyek besar yakni membangun saluran air yang sumbernya diambil dari Wadi Nu'man (Lembah Nu'man) yang kemudian dialirkan ke tempat-tempat jemaah haji di Mekah, Arafat, Mina dan Muzdalifah.

Pada masa itu belum ada listrik atau alat yang bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit air. Namun Zubaidah tak kehabisan akal, ia memanfaatkan tenaga kuda untuk menarik air dari Wadi Nu'man lalu dialirkan ke saluran di mana jemaah haji berada.

Kecemerlangan ide Zubaidah membuat mata air ini dianggap sebagai salah satu 'keajaiban' yang pernah ada dalam sejarah Islam. Karena jasanya yang besar dalam membantu para jemaah haji, nama Zubaidah pun diabadikan sebagai nama mata air tersebut.

Sayangnya, lama-kelamaan mata air ini mulai jarang digunakan karena tergantikan dengan mata air-mata air lain yang ditemukan di Mekah.

Meskipun begitu, pemerintah Arab Saudi tetap mempertahankan keberadaan mata air yang berusia lebih dari 12 abad itu hingga sekarang.

Topik Terkait :

Representasi Feminisme Versi Barli Asmara

Jangan Lewatkan