Pengalaman Menggetarkan Sholat Pertama Kali di Masjid Nabawi

Semerbak wangi tercium dari dalam masjid. Hati terasa dekat dengan Rasulullah di kota Madinah.

Syahid Latif
| 14 Maret 2019 19:35

Dream - Cuaca dingin menyelimuti Madinah. Jam baru menunjukan angka 5. Pria dan wanita, sebagian besar berpakaian putih, berjalan cepat ke arah yang sama. Menuju bangunan dengan dua puncak menara yang terang benderang. Menara itu bagian dari bangunan Masjid Nabawi.

Sekilas hawa di komplek dekat Masjid Nabawi ini mirip dinginnya Puncak, Bogor. Namun lebih dingin. Angin yang berhembus kencang seperti menembus jaket. Namun tak sampai membuat tubuh menggigil.

Subuh itu, 24 Maret 2019, Dream dan tim Media Trip Umroh Scoot dan Zamzam Travel baru tiba di Madinah. Hampir 16 jam perjalanan kami tempuh dari Bandara Soekarno-Hatta menuju kota Nabi ini. Di tepi jalan, sopir merapatkan busnya. Di samping pintu akses menuju Nokhba Royal Inn. Hotel tempat kami menginap.

Sejenak ada rasa sedih karena waktu sholat subuh berjamaah telah berlalu. Waktu sudah menunjuk pukul 5 subuh. Di Indonesia, tentu sudah lewat waktu sholat. Harapan itu kembali muncul. Kala terdengar azan dari Masjid Nabawi. Masya Allah, kami tidak ketinggalan. Waktu subuh di Madinah memang sedikit lebih pagi. Sekitar jam 5.30 waktu Arab.

Segera kami bergegas membawa koper dan tas jinjing. Setelah bersalin dan memakai sandal jepit, saya bergegas menuju lift hotel. Kami segera berjalan cepat menuju masjid. Takut panggilan iqamat memanggil.

Beberapa langkah dari lobi hotel, muazin Masjid Nabawi sudah melantunkan iqamat. Langkah seribu kami ambil. Beberapa jemaah lain turut berlarian. Tak ingin menjadi makmum masbuq.

Apa daya, langkah kami kalah cepat. Imam sholat subuh sudah melakukan rukuk. Kami tertinggal. Tak ingin terlewatkan rakaat kedua, saya putuskan berjamaah di luar masjid. Memang pelatarannya sangat luas. Bahkan sampai di depan gerbang. Namun barisannya tak padat. Terpencar di beberapa titik.

Alhamdulillah, keinginan subuh berjamaah terlaksana meski menjadi makmum masbuq. Ada kesedihan karena sholat pertama di masjid yang dibangun Rasulullah, Muhammad SAW, tak bisa dilakukan di dalam ruangan masjid.

 Masjid Nabawi Umroh

Usai sholat jenazah, kerumunan jemaah sholat subuh satu per satu keluar dari masjid. Jumlahnya mungkin mencapai ribuan orang. Ada rasa haru melihat pemandangan ini. Semua orang berlomba menunaikan sholat berjamaah di Masjid Nabawi. Pahala sholat di masjid Rasulullah ini memang dilipatkan 10 ribu kali dari sholat di masjid lain.

Dari pelataran, payung putih yang menjadi ikon masjid Nabawi terbuka dengan megah. Tertata rapi di depan masjid. Jumlahnya ratusan. Bergerak membuka dan menutup hanya dalam hitungan empat menit. Semua diatur secara elektronik.

Beberapa jemaah memilih tiduran atau sekadar bersila. Menikmati keindahan dan kedamaian Masjid Nabawi. Sebuah ponsel saya keluarkan dari balik saku. Momen langka ini tak boleh dilewatkan. Beberapa kali menekan tombol, foto sudah tersimpan di memori gawai.

Subuh itu saya lewatkan niat masuk ke dalam Masjid Nabawi. Rasa lelah belum hilang. Jadwal sarapan juga sudah mendekat. Pagi nanti, satu agenda sudah menanti tim kami. Berziarah ke makam di samping Masjid Nabawi.

Selanjutnya :

Diingatkan Akan Kematian

Lika-Liku Penangkapan Romahurmuziy

Jangan Lewatkan